Indeks Berita

Ketika Mereka Di-PHP-in Berkali-kali

Senin, 02 Oktober 2017

Banda Aceh – Jafaruddin (50), tak acuh ketika tim verifikator dari provinsi Aceh mendatangi rumahnya di salah satu desa di kecamatan Juli, Bireuen. Ia hanya menoleh sekali, terus melanjutkan kesibukannya tanpa bertanya sepatah kata pun. Ia sudah mengira, dia akan di-PHP-in (pemberian harapan palsu) lagi tentang pemberian rumah duafa oleh oknum.

“Ini yang kedelapan kali rumah kami difoto oleh petugas pendataan, tapi bantuan tak pernah datang,” kata istri Jafaruddin, Salamah kepada petugas yang ditugaskan memverifikasi ulang Basis Data Terpadu (BDT) Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) Aceh tahun 2015.

Kondisi rumah sudah tidak layak lagi tinggal. Atap rumbia yang sudah bocor di beberapa sudut, dindingnya sudah lapuk, tanpa ventilasi dan lubang jendela, ditambah lagi lantai hanya tanah yang dilapisi tenda tua di atasnya.

Walaupun demikian, ia tak punya pilihan. Hanya pasrah tinggal di rumah yang layak disebut gubuk itu, namun baginya, itu istana yang megah tempat mereka berlindung bersama tiga orang anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar.

Yang sangat disayangkan, mereka bahkan pernah ditipu oleh oknum yang mengaku perpanjangan tangan pemerintah di provinsi. Mereka diminta sejumlah uang, dengan harapan akan dibangun rumah secepatnya.

Ia menjual barang-barang berharga, namun si oknum hanya membawa beberapa zak semen dan pasir cor satu truk, setelah itu tak pernah terlihat lagi batang hidungnya. Ada pula yang membawa daftar nama lengkap dengan stempel basah mengatakan rumahnya masuk daftar renovasi.

Berbagai cara oknum datang dan memotret berkali-kali untuk meyakinkan si pemilik rumah. Sehingga ketika datang petugas resmi pemerintah ingin mendata ulang, mereka tak pernah percaya lagi yang namanya pendataan. Sudah lelah mereka dengan harapan-harapan kosong.

Banyak Data Non-BDT

Tim verifikasi BDT RTLH Aceh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Aceh tahun 2017 terdiri atas beberapa badan dan dinas seperti Dinas Sosial, Baitul Mal Aceh, dan Bappeda itu sendiri.

Mereka ditugaskan memeriksa ulang BDT yang dihimpun tahun 2015 untuk di-update rumah-rumah yang tidak layak huni. Tim ini bahkan juga mendata rumah yang tidak layak huni di luar BDT. Tanpa diduga, data non-BDT ternyata hampir mencapai 10 kali lipat dati BDT.

Kondisi ini dangat memprihatinkan. Masih banyak masyarakat Aceh yang tinggal di rumah yang beratap rumbia. Jangankan untuk membuat rumah, untuk kebutuhan sehari-hari saja belum mencukupi.

DPR Anggarkan Dana Verifikasi untuk 30 Ribu Rumah Duafa

Seperti diberitakan Harian Serambi Indonesia, DPR Aceh meminta Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Aceh supaya bisa menghasilkan data yang benar-benar akurat dalam pendataan terhadap 30 ribu rumah unit duafa, di 23 kabupaten di Aceh yang akan dilakukan akhir 2017. Karena dana yang disediakan untuk pendataan verifikasi dan evaluasi rumah duafa cukup besar.

Ketua DPR Aceh Tgk Muharuddin mengatakan, dana Rp 800 juta itu sudah dianggarkan untuk biaya mulai dari pendataan, verifikasi, dan evaluasi terhadap seluruh rumah di Aceh.

“Kita berharap kepada tim Bappeda Aceh supaya segera melakukan pendataan, karena mulai 2018 data tersebut sudah dapat digunakan untuk memulai membangun rumah,” kata Muharuddin Jumat (29/9/2017).

Disebutkan, target Pemerintah Aceh di bawah Irwandi-Nova pembangunan rumah sebanyak itu akan direaliasikan dalam jangka lima tahun.Artinya tiap tahun Pemerintah Aceh harus mampu membangun rumah minimal 6.000 unit.

“Rumah duafa itu banyak kita temukan di daerah yang konfliknya lebih parah, misalnya di Aceh Timur, Aceh Utara, Bireuen, Pidie Jaya, Pidie dan juga sejumlah kabupaten di pantai barat selatan,” pungkas Tgk Muhar.[]


Foto-foto Kegiatan Kajian 1 Muharram 1439 Hijriah

Selasa, 26 September 2017
Kajian 1 Muharram 1439 Hijriah sesi II di Aula BMA.
Kajian ini merupakan bentuk pendampingan, edukasi, motivasi, dan monitoring terhadap mustahik beasiswa Baitul Mal Aceh.
berikut foto-foto kegiatan.
IMG_0189 IMG_0190
IMG_0196 IMG_0215
IMG_0219

Sertijab Kepala Baitul Mal Aceh

Jumat, 08 September 2017

Banda Aceh – Kepala Baitul Mal Aceh melaksanakan Serah Terima Jabatan (Sertijab) antara kepala yang lama, Dr Armiadi Musa MA dengan Pelaksanaan Tugas (Plt) Kepala yang baru, Zamzami Abdulrani S Sos.

Sertijab yang dilaksanakan di Aula kantor Baitul Mal Aceh itu dihadiri tiga unsur pejabat yaitu sekretariat, badan pelaksana, dan Dewan Pertimbangan Syariah (DPS), Jumat (08/09/2017).

Armiadi Musa, dalam sambutannya mengatakan berkomitmen akan membantu lembaga Baitul Mal Aceh. Biar pun ia tak lagi menjabat ia akan berkontribusi untuk lembaga yang pernah dipimpinnya.

“Saya berkomitmen untuk membantu lembaga Baitul Mal tidak hanya di provinsi, untuk seluruh Kabupaten/kota juga,” ujarnya.

Ia juga mengharapkan kepada Plt untuk perjuangkan qanun Baitul Mal Aceh yang pernah diperjuangkan semasa ia menjabat. Dengan lahirnya qanun tersebut, masalah yang selama ini dialami Baitul Mal Aceh akan mendapat jalan keluar.

“Sudah tiga tahun kita perjuangkan namun ketika sudah di paripurna masih menyisakan masalah, salah satunya soal perekrutan komisioner, tolak-tarik antara kewenangan gubernur atau DPRA,” katanya.

Sementara itu, Plt Zamzami dalam sambutannya mengatakan meminta kepala Baitul Mal Aceh yang lama untuk terus memberi sumbangan ide untuk membangun Baitul Mal Aceh agar lebih baik ke depan. Apalagi Armiadi pakar di bidang zakat tentu Baitul Mal Aceh sangat butuh sharing ilmu darinya.

“Saya akan memperjuangkan perjuangan pak Armiadi. Apalagi sekarang kita lagi susun Renstra baru,” kata Zamzami.

Hal senada juga disampaikan Kepala Sekretariat Baitul Mal Aceh, T Sulaiman SE. Ia melihat banyak kemajuan selama Armiadi memimpin.

“Saya harap kepada Dr Armiadi untuk membimbing kami dari segi fiqh zakat,” tandasnya.[]


Sertijab Kepala Baitul Mal Aceh

Jumat, 08 September 2017
Banda Aceh – Kepala Baitul Mal Aceh melaksanakan Serah Terima Jabatan (Setijab) antara kepala yang lama, Dr Armiadi Musa MA dengan Pelaksanaan Tugas (Plt) Kepala yang baru, Zamzami Abdulrani S Sos. 
Sertijab yang dilaksanakan di Aula kantor Baitul Mal Aceh itu dihadiri tiga unsur pejabat yaitu sekretariat, badan pelaksana, dan Dewan Pertimbangan Syariah (DPS), Jumat (08/09/2017). 
 
Armiadi Musa, dalam sambutannya mengatakan berkomitmen akan membantu lembaga Baitul Mal Aceh. Biar pun ia tak lagi menjabat ia akan berkontribusi untuk lembaga yang pernah dipimpinnya.
“Saya berkomitmen untuk membantu lembaga Baitul Mal tidak hanya di provinsi, untuk seluruh Kabupaten/kota juga,” ujarnya.
Ia juga mengharapkan kepada Plt untuk perjuangkan qanun Baitul Mal Aceh yang pernah diperjuangkan semasa ia menjabat. Dengan lahirnya qanun tersebut, masalah yang selama ini dialami Baitul Mal Aceh akan mendapat jalan keluar. 
 
“Sudah tiga tahun kita perjuangkan namun ketika sudah di paripurna masih menyisakan masalah, salah satunya soal perekrutan komisioner, tolak-tarik antara kewenangan gubernur atau DPRA,” katanya. 
 
Sementara itu, Plt Zamzami dalam sambutannya mengatakan meminta kepala Baitul Mal Aceh yang lama untuk terus memberi sumbangan ide untuk membangun Baitul Mal Aceh agar lebih baik ke depan. Apalagi Armiadi pakar di bidang zakat tentu Baitul Mal Aceh sangat butuh sharing ilmu darinya. 
 
“Saya akan memperjuangkan perjuangan pak Armiadi. Apalagi sekarang kita lagi susun Renstra baru,” kata Zamzami. 
Hal senada juga disampaikan Kepala Sekretariat Baitul Mal Aceh, T Sulaiman SE. Ia melihat banyak kemajuan selama Armiadi memimpin.  
“Saya harap kepada Dr Armiadi untuk membimbing kami dari segi fiqh zakat,” tandasnya.[]

Mantan Wabup Aceh Jaya, Plt Kepala BMA

Senin, 04 September 2017

Banda Aceh – Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf menetapkan Zamzami Abdulrani, S. Sos sebagai Pelaksana Tugas  (Plt) Kepala Badan Pelaksana Baitul Mal Aceh (BMA). Penetapan Zamzami sebagai Plt mengingat masa jabatan Kepala BMA lama Dr Armiadi Musa MA berakhir beberapa bulan Lalu.

Pengangkatan tersebut berdasarakan Keputusan Gubernur Aceh bernomor 821.29/864/2017, tanggal 22 Agustus 2017 atau bertepatann dengan 29 Dzulqaidah 1438 Hijirah. Sejak tanggal ditetapkan Zamzami akan bertugas hingga dilantik kepala Baitul Mal Aceh defenitif yang baru.

Zamzami Abdulrani merupakan mantan Wakil Bupati (Wabup) Aceh Jaya periode 2007-2012 berpasangan dengan Azhar Abdurrahman. Pria asal Lamno ini dipercaya menjabat sebagai Plt Kepala Baitul Mal Aceh demi kelancaran penyaluran zakat selama kekosongan pimpinan difenitif.

“Untuk sementara waktu saya dipercaya oleh gubernur untuk posisi Plt ini. Karena saya orang baru, dan sudah lima tahun tidak memimpin pegawai, mohon saya diberikan masukan dan dibantu karena kita selaku manusia pasti ada kekurangannya,” ungkap Zamzami pada rapat perdana masuk kantor pascalebaran Idul Adha, Senin (04/09/2017) di aula BMA.

Ia berharap dengan kehadirannya dapat mencapai target penyaluran dan pemberdayaan zakat tahun ini. Biar pun tak sampai seratus persen karena sisa waktu beberapa bulan lagi untuk 2017, setidaknya tidak terlalu banyak sisa dana zakat.

“Kita akan bekerja keras untuk beberapa bulan ke depan supaya dana zakat yang belum tersalurkan dapat kita maksimalkan,” tandasnya.

Terhambat Penyaluran

Sementara itu, Kepala Sekretariat Baitul Mal Aceh, T Sulaiman SE mengatakan penyaluran zakat tahun ini belum mencapai 50 persen. Hal itu disebabkan kekosongan pimpinan, sehingga dana zakat tidak bisa dicairkan untuk disalurkan kepada yang berhak menerima zakat (mustahik).

“Oleh karena itu, dengan adanya Plt Kepala Badan Pelaksana Baitul Mal Aceh ini, kita berharap tidak ada lagi kendala dalam penyaluran zakat. Kita sama-sama akan bekerja untuk mencapai target tahun ini,” ujar Sulaiman.

Ia juga berterima kasih kepada gubenur Aceh yang telah mengambil sikap cepat pengangkatan Plt, mengingat beberapa bulan terakhir banyak sekali dana zakat yang tertunda penyaluran seperti beasiswa, fakir uzur, dan beberapa program lainnya.[]

 


BMA dan Baznas Berqurban di Pedalaman Pijay

Senin, 28 Agustus 2017

Banda Aceh – Baitul Mal Aceh (BMA) bersama Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) menyumbang dua ekor sapi untuk diqurbankan di wilayah pedalaman Pidie Jaya, tepatnya di Gampong Lhok Puuk, Kecamatan Pante Raja. Kegiatan ini akan dilaksanakan pada hari tasyrik Idul Adha 1438 Hijriah.

Kepala Sekretariat Baitul Mal Aceh T Sulaiman SE mengatakan kegiatan ini merupakan program Baznas untuk pemberdayaan masyarakat desa di seluruh Indonesia. Untuk Aceh Baznas bekerja sama dengan Baitul Mal Aceh sebagai Bazda.

“Hewan qurban yang dibeli langsung dari masyarakat setempat dan dipotong di tempat itu juga, sehingga pedagang untung, masyarakat juga untung,” kata Sulaiman.

Selain BMA dan Baznas, ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini yaitu bank Aceh menyumbang satu ekor sapi. Untuk itu, bagi masyarakat yang ingin ikut berpartsipasi untuk menyumbang hewan qurban pada kegiatan ini bisa menghubungi amil Baitul Mal Aceh nomor kontak 081360802526.

Desa Lhok Puuk merupakan salah satu desa yang terkena dampak berat gempa pada Desember 2016 lalu. Di desa ini terdapat 133 kepala keluarga dengan jumlah penduduk 495 jiwa. Jumlah rumah 105 unit, rusak berat 22 unit, rusak sedang 21, dan rusak ringan 18 unit.[]


Hadiah Undian, Kena Zakat?

Selasa, 22 Agustus 2017

Diasuh oleh Prof Amin Suma
Dewan Syariah Dompet Dhuafa

Assalamualaikum wr wb
Sebulan lalu, secara tidak sengaja saya mendapat enam kupon undian dari sebuah toko. Alhamdulillah, saya mendapatkan sebuah handphone yang harganya berkisar Rp 4 juta-Rp 5 juta. Berapa besarnya zakat undian yang harus saya keluarkan.

Yuli

Waalaikumussalam wr wb
Semoga Allah SWT senantiasa mencurahkan keberkahan-Nya kepada Anda dan keluarga. Pada dasarnya, harta berupa handphone tidak termasuk harta wajib zakat. Handphone hanya akan menjadi harta wajib zakat ketika diperjualbelikan untuk mendapatkan keuntungan.

Dengan demikian, handphone yang saudara dapatkan tidak termasuk harta yang wajib dizakati. Hal ini berbeda dengan hadiah yang berupa uang. Wallahu a’lam.

Sumber: Republika


Bank Aceh Bantu Perangkat SiMBA Mal

Rabu, 16 Agustus 2017

Banda Aceh – Baitul Mal Aceh mendapatkan bantuan perangkat Sistem Manajemen Informasi Baitul Mal Aceh (SIMBAMAL). Bantuan yang diberikan barupa 1unit server, 3 unit monitor dan 1 unit AC.

Penyerahan perangkat tersebut diserahkan langsung Kepala Cabang Bank Aceh Syariah Banda Aceh Imamil Fadhli yang diterima langsung Kepala Sekretariat Baitul Mal Aceh T Sulaiman SE di Aula kantor Baitul Mal Aceh, Rabu (16/08/2017).

Imamil Fadhli mengatakan perangkat tersebut sebagai bentuk dukungan pihak Bank Aceh untuk lembaga zakat. Apalagi selama ini Baitul Mal Aceh dengan Bank Aceh sudah bermitra dengan baik.

“Jangan dilihat dari harga, tapi ini bagian dari mendukung operasional Baitul Mal Aceh, sehingga dapat dimanfaatkan dengan baik,” ujar Imamil.

Ia berharap ke depan SIMBA bisa terkoneksi langsung dengan sistem di  Bank Aceh. Dan kepercayaan muzakki terhadap Baitul Mal Aceh semakin meningkat karena sudah transparansi melalui sistem tersebut.

“Lagipula selama ini sudah ada kerja sama penyetoran zakat melalui ATM,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Sekretariat Baitul Mal Aceh T Sulaiman SE mengucapkan terima kasih kepada pihak Bank Aceh yang selama ini sudah banyak mendukung Baitul Mal Aceh. Dengan bantuan yang diterimanya akan dimanfaatkan dengan baik.

“Kami juga berdoa agar Bank Aceh lebih maju lagi ke depan,” tutupnya. []


Baitul Mal Bahas Wakaf Produktif dan Fundraising Zakat

Kamis, 10 Agustus 2017

Banda Aceh –  Baitul Mal Aceh (BMA) menyelenggarakan dua kegiatan sekaligus yaitu Pelatihan Fundraising Zakat dan Pengelolaan Wakaf Produktif bagi Amil Baitul Mal Kabupaten/kota (BMK) Se-Aceh, Selasa (08/08/2017).

Kegiatan ini dilaksanakan mengingat di kabupaten/kota se-Aceh masih banyaknya harta wakaf yang belum dikelola dengan baik, sehingga rentan terbengkalai dan tidak difungsikan.

Dua kegiatan tersebut dilaksanakan pada hari yang sama yaitu mulai 08 hingga 10 Agustus 2017 yang dibuka Dewan Pertimbangan Syariah (DPS) Baitul Mal Aceh, Prof Dr Al Yasa’ Abubakar  MA di hotel Kuala Radja Banda Aceh.

Dalam sambutannya ia mengatakan harta wakaf itu baik tanah ataupun jenis wakaf lainnya lebih besar peranannya untuk perberdayaan ummat dibanding zakat dan infaq. Sebab, zakat dan infaq bisa saja habis digunakan, sedangkan wakaf tidak akan pernah habis.

“Namun yang menjadi persoalan hari ini baik di Aceh maunpun di dunia adalah pengelolaannya yang tidak produktif dan ketertiban administrasi wakaf yang masih kurang dan terkendala, sehingga rawan digugat,” kata Prof Alyasa.

Selain itu katanya, nadzir juga perlu dilatih cara pengelolaan wakaf agar mampu memproduktifkan harta wakaf yang ada di desa-desa atau dimanapun. Sehingga harta yang dimiliki umat saat ini terselematkan dan memberi dampak yang lebih besar dibanding pembiayaran tanpa terurus.

Aceh diberi kesempatan mengurusnya wakaf melalui peraturan atau qanun sama seperti kita diberi kewenangan dalam mengelola zakat,” tandas mantan Kadis Syariat Islam pertama tersebut.

Sementara itu kepala sekretariat Baitul Mal Aceh, T Sulaiman SE mengatakan untuk acara fundraising diselenggarakan mengingat selama ini masih banyak zakat mengendap di kantong-kantong muzakki, seperti sektor perdagangang, perusahaan, pertanian, tambak dan jenis-jenis lainnya.

“Dengan demikian pada 2018 akan lebih meningkatkan lagi target pengumpulan Zakat, Infaq, dan Sedekah (ZIS) di Baitul Mal se-Aceh,” ujarnya.

Kedua acara ini diikuti oleh 81 peserta yang terdiri atas 46 untuk pelatihan fundraising dan 35 utusan untuk workshop pengelolaan wakaf produktif. Untuk narasumber dihadirkan dari Nasional dan lokal.

Dari nasional Baitul Mal Aceh mengundang Dirut A-Azhar Peduli Umat Al-Azhar, Muhammad Rofiq Thoyyib Lubis untuk mengisi materi seputar model pengelolaan wakaf produktig dan managemennya  dan dari Dompet Dhuafa yaitu Bambang Suherman untuk materi Strategi Fundraising.


35 Anak Muallaf Miskin Terima Beasiswa Penuh

Senin, 07 Agustus 2017

Banda Aceh – Tahun ini, Baitul Mal Aceh (BMA) kembali memberikan beasiswa penuh kepada 35 anak muallaf yang direkrut dari daerah-daerah rawan aqidah. Beasiswa ini diberikan untuk meringankan beban keluarga mereka yang kurang mampu serta membentengi aqidah mereka.

Kepala Sekretariat Baitul Mal Aceh, T Sulaiman SE mengatakan dari 35 siswa muallaf penerima beasiswa penuh tersebut merupakan siswa tingkat SLTP dan SLTA. Para siswa yang sudah lulus verifikasi disekolahkan di pesantren Daruzzahidin Aceh Besar dan Islamic Solidarity School (ISS) Jantho.

“Tujuan dari bantuan ini merupakan bentuk kepedulian pemerintah terhadap para keluarga muallaf dalam meringankan beban ekonomi mereka dan juga bentuk pemberdayaan muallaf di sektor pendidikan yang berasal dari keluarga miskin,” ujar Sulaiman.

Untuk 2017, untuk program ini Baitul Mal Aceh menganggarkan dana zakat sebesar Rp400 juta. Dana sebesar ini untuk menanggung biaya masuk, SPP, uang bulanan, perlengkapan sekolah seperti seragam dan perlengkapan alat tulis.

“Sekarang ke-35 siswa muallaf tersebut sudah memasuki pesantren, kita berharap mereka serius mengikuti program ini dan sukses di masa yang akan datang,” ujarnya.

Ia menambahkan, program pemberdayaan muallaf melalui pendidikan ini merupakan program rutin Baitul Mal Aceh setiap tahunnya. Tujuannya tak lain yaitu memutuskan mata rantai kemiskinan di Aceh, sehingga ia tak mewarisi kemiskinan dari orang tuanya.

Pada tahun ini jumlahnya sedikit berkurang dibanding tahun 2016 sebanyak 46 dan 2015 sebanyak 30 orang. “Setiap tahun kita surati Baitul Mal Kabupaten/kota untuk mengirimkan data anak-akan muallaf di daerah rawan aqidah untuk kita verifikasi,” imbuhnya.

Adapun daerah-daerah yang tergolong rawan aqidah menurut Dewan Pertimbangan Syariah Baitul Mal Aceh yaitu Simeulue, Singkil, Aceh Tenggara, Subulussalam, dan Aceh Tamiang. Kelima daerah ini dianggap rawan aqidah karena dekat dengan perbatasan yang penduduknya banyak dari nonmuslim.

Berterimakasih kepada Muzakki

Salah seorang penerima beasiswa penuh anak muallaf tingkat SLTP dari Aceh Tamiang, Iki Saputra mengakui sangat bahagia mendapatkan kesempatan memperolah beasiswa tersebut, selain dapat meringankan beban orang tua, juga menambah semangatnya untuk melanjutkan pendidikan.

Ia berharap setelah dewasa nanti bisa menjadi ustadz atau guru pendidikan agama bagi muallaf lainnya, baik untuk keluarganya maupun untuk masyarakat secara umum. “Semoga nanti saya dapat membentengi dan memperkuat aqidah keluarga saya dan bagi muallaf lainnya.” Tutup Iki.

Ia juga tak lupa mendoakan para muzakki agar diberkahi rezekinya dan ditambahkan lebih banyak lagi. Ia berharap semakin banyak lagi muzakki yang menunaikan zakatnya ke Baitul Mal Aceh sehingga lebih banyak yang dapat dibantu. []