Indeks Berita

Komitmen Baitul Mal Aceh untuk Pemberdayaan Umat

Kamis, 14 Desember 2017

BANDA ACEH– Sejak tahun 2006 Baitul Mal Aceh sudah merintis program pemberdayaan umat berbasis ekonomi produktif. Tidak kurang dari 1.500 mustahik pelaku usaha mikro telah mendapat bantuan modal usaha bergulir.

Program pemberdayaan ini bertujuan untuk meningkatkan produktifitas dan kemandirian mustahik dalam memenuhi kebutuhan hidupnya yang layak. Karena salah satu tujuan filantropi Islam adalah menghilangkan kesenjangan dan mewujudkan kesetaraan hidup tanpa ada perbedaan status sosial.

Program pemberdayaan berbasis ekonomi produktif dinilai sebagai cara yang paling efektif untuk mewujudkan harapan itu. Baitul Mal Aceh terus berkomitmen melakukan pemberdayaan kepada mustahik. Inovasi program pemberdayaan meliputi bantuan modal usaha, peralatan kerja baik berbasis individu maupun kelompok dan gampong.

Selama 3 tahun terakhir sudah 32 gampong di bina Baitul MalAceh menuju gampong produktif berbasis kearifan lokal. Gampong binaan Baitul Mal Aceh diarahkan untuk memiliki branding “one village one product” sebagai sumber pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Tahun 2017 sebanyak 491 mustahik telah menerima bantuan modal usaha bergulir dengan total dana Rp. 3,2 miliar dan 48 mustahik menerima bantuan alat kerja dengan total dana Rp. 150 juta yang disalurkan untuk pelaku usaha mikro yang ada di Banda Aceh dan Aceh Besar. Sedangkan program kolektif sebanyak 10 Gampong untuk pemberdayaan ekonomi dengan total dana 500 juta yang disalurkan di wilayah Aceh Besar, Aceh Utara, Aceh Jaya dan Aceh Barat.

Berbagai macam usaha kecil masyarakat terus berkembang di bawah program pemberdayaan dari Baitul Mal Aceh. Produk yang dihasilkan juga sangat bervariasi diantaranya bahan pangan, makanan ringan, kue tradisonal, hasil pertanian, kerajinan tangan dan peternakan dengan omset usaha yang terus meningkat setiap tahun. tahun 2017 ini 86 orang mustahik binaan Baitul Mal Aceh telah bertransformasi menjadi muzakki. Artinya mereka yang dulunya berstatus mustahik (penerima zakat) dan kini telah tumbuh menjadi muzakki (pembayar zakat)(*).

 


Baitul Mal Aceh Bantu 1.000 Santri se-Aceh

Rabu, 06 Desember 2017

Banda Aceh – Baitul Mal Aceh (BMA) menyalurkan bantuan masing-masing Rp 1 juta kepada 1.000 santri miskin dari 127 dayag di seluruh Aceh. Bantuan bersumber dari dana zakat senif ibnu sabil ini sebesar Rp1 milyar ditransfer ke rekening santri sejak dua minggu terakhir.

Bantuan ini diharapkan dapat membantu santri dalam memenuhi kebutuhan pendidikannya. Plt Kepala Baitul Mal Aceh, Zamzami Abdulrani, Rabu (29/11) mengatakan dalam pendataan bantuan tersebut, pihaknya bekerjasama dengan Baitul Mal Kabupaten/kota serta dayah.

“Tim Baitul akan turun ke lapangan untuk memastikan apakah bantuan tersebut sudah diterima atau belum,”ujarnya.

Zamzami mengungkapkan masih banyak santri dayah yang membutuhkan bantuan dan pemberdayaan, harapannya jika yang bayar zakat semakin banyak, maka semakin banyak pula yang dapat dibantu.

Santri yang dibantu kali ini berasal dari 127 dayah salafi dan terpadu. Adapun dayah yang dibantu memiliki kriteria seperti: memiliki gedung, terdaftar di dinas dayah, berizin menyelenggarakan pendidikan dan memiliki santri yang tetap.[]


Zakat Berdayakan Ummat

Senin, 20 November 2017

Oleh Sayed Muhammad Husen

Tema Rapat Kerja (Raker) Baitul Mal se Aceh tahun ini tentang “Zakat Berdayakan Ummat” pada 15-17 November 2017 menarik perhatian saya. Tema ini begitu penting untuk memberi perspektif baru pengelolaan Zakat, Infak, Sedekah dan Wakaf (ZISWAF) di Aceh. Selama ini pendistribusiannya lebih dominan bersifat konsumtif dan karitatif.

Raker yang diikuti para Kepala Baitul Mal Kab/Kota (BMK), Kepala Sekretariat BMK dan unsur Baitul Mal Aceh (BMA) mengupas tiga makalah kunci: Strategi dan Sinergi Pemerintah Aceh dalam Penanggulangan kemiskinan, Best Practice Baitul Mal dalam Penanggulangan Kemiskinan dan Perspektif Syariah Pendayagunaan Zakat.

Satu rumusan keputusan Raker yang saya anggap terobosan baru pengelolaan ZISWAF di Aceh adalah kesepakatan penggunaan dana ZIS untuk program pengembangan masyarakat atau ZIS Community Development (ZIS-CD). Program ini diyakini dapat memperbesar kontribusi ZIS dalam penanggulangan kemiskinan.

Selama ini, Baitul Mal telah mendayagunakan ZIS yang dianggap berdampak secara langsung atau tidak terhadap penurunan angka kemiskinan melalui beberapa kegiatan seperti pelatihan/kursus keterampilan, penyediaan peralatan kerja, pembangunan/rehab rumah fakir miskin, penyediaan modal usaha tanpa bunga, beasiswa, dan kegiatan lainnya.

Kegiatan-kegiatan pemberdayaan oleh Baitul Mal terus ditingkatkan dengan pendekatan sinergis dalam hal basis data dan koordinasi dengan instansi terkait. Demikian juga perlu dipastikan pengukuran berapa persen kontribusi ZIS terhadap penurunan kemiskinan di Aceh. BMA menargetkan kontribusi  ZIS 10% dari target Pemerintah Aceh.

Saya berkeyakinan, Pemerintah Aceh (baca: Bappeda) akan memperkuat peran Baitul Mal dalam penanggulangan kemiskinan, mengingat potensi ZIS yang cukup besar. Dari potensi zakat Aceh Rp1,4 triliun, Baitul Mal telah menghimpun hampir Rp300 miliar setahun. Angka ini masih dapat ditambah dengan penyetoran zakat yang belum terdata dan dibayar masing-masing muzakki.

Dari arena Raker Baitul Mal baru-baru ini, saya merasakan tantangannya juga cukup berat. Secara internal pengurus Baitul Mal masih mengandalkan pendistribusian ZIS secara konsumtif dan karitatif. Persentase program dan kegiaan ZIS yang bersifat pemberdayaan dan produktif masih cukup kecil.

Tantangan  eksternal datang dari masyarakat yang juga lebih mengharapkan disalurkan secara tradisional. Berapapun ZIS yang terkumpul habis seluruhnya dibagi-bagi dalam bentuk konsumtif dan karitatif. Hampir tak ada bagian untuk pemberdayaan ekonomi dan pengembangan masyarakat. Belum bagus juga sinergi antar instansi terkait.

Untuk itu, menindaklanjuti keputusan Raker masih perlu dilakukan edukasi syariah tentang ZIS produktif dan ZIS-CD.  Pengurus Baitul Mal seluruhnya perlu mendapatkan landasan syariah yang kuat bahwa ZIS dapat digunakan untuk penanggulangan kemiskinan berbasis komunitas. Dengan cara ini ZIS akan lebih efektif untuk mengubah status masyarakat dari miskin menjadi kaya.

BMA perlu merencanakan dengan baik program ZIS-CD, sehingga dapat dilaksanakan pada tahun 2018. Beberapa persiapan harus dilakukan segera misalnya konsultasi degan BAZNAS tentang Panduan ZIS-CD, studi kelayakan lokasi, pelatihan, rekrutmen pendamping, dan perencanaan biaya operasional.

Saya berharap, kita semua (baca: amil) berpikir progresif, sehingga ZIS yang kita kelola dapat berdampak terhadap perubahan status mustahik menjadi muzakki. Esensi ZIS adalah media problem solving terhadap masalah-masalah ummat, yang salah satu masalah berat kita hadapi di Aceh: penanggulangan kemiskinan. Sungguh tak mungkin kemiskinan berkurang hanya dengan bagi-bagi zakat.

Lampanah, 18 Nopember 2017/29  Shafar 1439


Raker Baitul Mal Se-Aceh, Gubernur Minta Dibuatkan Terobosan Baru

Jumat, 17 November 2017

Banda Aceh – Gubernur Aceh Irwandi Yusuf meminta Baitul Mal se-Aceh melahirkan terobosan-terobosan baru dalam pemberdayaan umat melalui dana Zakat, Infak dan Sedekah (ZIS).

Harapan itu disampaikannya gubernur dalam sambutannya yang dibacakan Plt Kepala Baitul Mal Aceh Zamzami Abdulrani saat membuka Rapat Kerja (Raker) Baitul Mal Kabupaten/kota se-Aceh tahun 2017, Rabu (15/11/2017)  di Hotel Grand Arabia, Banda Aceh.

“Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupatan/kota bertanggungjawab atas pengelolaan dana umat ini. Oleh karena itu pelaksanaannya harus beriringan antara ketentuan syariat dan peraturan perundang-undangan,” ujar gubernur.

Gubernur Aceh mengapresiasi kinerja Baitul Mal yang terus menunjukkan kemajuannya. Pada 2016, awalnya pemerintah menargetkan penerimaan Aceh dari sumber zakat sebesar Rp25 milyar. Namun dalam  Laporan Penyelenggaraan Pemerintah Aceh tahun 2016, Baitul Mal Aceh berhasil mengumpulkan zakat mencapai 27,97 miliar.

“Jumlah capaian penerimaan zakat ini 12 persen lebih besar dari yang ditargetkan. Sedangkan khusus pendapatan infaq dan sedekah mencapai 22,45 miliar,” tandasnya.

Meskipun demikian, katanya Baitul Mal masih memiliki Pekerjaan Pumah (PR) yang lebih besar yaitu menggenjot penerimaan agar mencapai potensi zakat  berdasarkan penelitian sebesar 1,4 trilliun. Karenanya, kehadiran Baitu Mal harus dapat menjadi motor bagi pengumpulan dan penyaluran dana umat yang lebih koordinatif di Aceh.

Sementara itu, Kepala Sekretariat Baitul Mal Aceh, T Sulaiman SE mengatakan tujuan rapat kerja tahun ini, pertama untuk melakukan koordinasi dengan Baitul Mal se-Aceh dan meningkatkan pemahaman program dan kegiatan Baitul Mal se-Aceh.

Selain itu juga bersama Baitul Mal se-Aceh akan menyusun pedoman/panduan bagi Baitul Mal Aceh dan Baitul Mal se-Aceh dalam menyusun program pendayagunaan ZIS serta menetapkan target keberhasilan Baitul Mal se-Aceh tahun 2018.

Acara berlangsung selama tiga hari mulai Rabu 15-17 November 2017 di Grand Arabia Hotel Blang Padang. Para peserta yang hadir yaitu Kepala Badan Pelaksana dan Kepala Sekretariat Baitul Mal Kabupaten/kota se-Aceh.

“Sedangkan untuk materi diisi oleh pemateri dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dan dari lokal itu sendiri. Sedangkan materinya seputar strategi dan sinergisitas Pemerintah Aceh dalam penanggulangan kemiskinan,” tandasnya.

Raker yang mengankat tema “Zakat Berdayakan ummat “ juga membahas terkait format pendistribusian zakat untuk penganggulangan kemiskinan perspektif syariah.[]


BMA Serahkan Bantuan untuk Rohingya

Selasa, 14 November 2017

Banda Aceh – Baitul Mal Aceh (BMA) menyerahkan bantuan sebesar Rp100 juta untuk muslim Rohingya yang saat ini masih di tempat pengungsian, Bangladesh.

Bantuan tersebut diserahkan langsung Plt Kepala Baitul Mal Aceh, Zamzami Abdulrani kepada perwakilan Aksi Cepat Tanggap (ACT) Aceh, Thariq Farline di Kantor Baitul Mal Aceh, Banda Aceh, Senin.

“Bantuan ini merupakan bentuk solidaritas kita sesama muslim yang tertindas, yang kebetulan hari ini dialami saudara kita muslim Rohingya,” kata Zamzami.

Zamzami menjelaskan dana tersebut bersumber dari dana infaq yang selama ini dipotong dari rekanan proyek pemerintah Aceh, di mana setiap kontraktor yang mendapat paket pekerjaan dari pemerintah dipotong sebesar 0,5 persen.

Ia berharap dengan adanya bantuan tersebut dapat meringankan beban saudara seiman yang sedang ditimpa musibah dan dirinya juga mengajak semua pihak untuk ikut serta membantu Rohingya.

“Umat Islam itu bagaikan tubuh yang satu, jika salah satu anggota ada yang sakit, maka seluruh tubuh merasa sakit, begitu juga kita, jika ada saudara kita yang musibah, kita harus bantu meringankan beban mereka,” katanya.

Perwakilan Aksi Cepat Tanggap (ACT) Aceh, Thariq Farline mengatakan akan menyalurkan bantuan tersebut langsung kepada Rohingya. Bantuan tersebut nantinya akan dikemas sesuai kebutuhan di lapangan.

“Saat ini yang sangat dibutuhkan di sana yaitu fasilitas sekolah, makanan dan kebutuhan tempat ibadah, serta kebutuhan lainnya,” katanya.


Baitul Mal Aceh Renovasi 500 Rumah Fakir Miskin

Senin, 06 November 2017

BANDA ACEH – Baitul Mal Aceh telah merenovasi sebanyak 500 unit rumah fakir miskin yang tersebar di seluruh Aceh. Renovasi tersebut dilaksanakan pada 2016 dan penyelesainnya pada 2017.

Plt Kepala Baitul Mal Aceh Zamzami Abdulrani, S. Sos mengatakan program rehab rumah fakir miskin ini merupakan bentuk kepedulian Baitul Mal Aceh dalam menyediakan tempat yang layak bagi mereka yang kurang mampu.

Selain itu juga bentuk dukungan terhadap program pemerintah dalam menekan angka kemiskinan di Aceh. “Setelah kita rehab rumahnya, minimal sudah mengurangi beban ekonomi mereka, artinya mereka tidak lagi memikirkan untuk tempat tinggal, tapi fokus mencari nafkah untuk kebutuhan sehari-hari,” kata Zamzami, Kamis (02/11/2017).

Zamzami menambahkan untuk program ini Baitul Mal Aceh menggelontorkan dana sebesar Rp 10 milyar. Setiap mustahik (orang berhak menerima zakat) memperoleh sebesar Rp20 juta yang bersumber dari dana zakat.

Ia berharap kepada penerima zakat agar terus mendoakan para muzaki (orang yang wajib membayar zakat) agar hartanya berkah dan terus bertambah. “Dan harapan terbesar kami suatu saat nanti para mustahik ini menjadi muzaki,” ujar mantan wakil bupati Aceh Jaya tersebut.

Sementara itu, Ketua Komite Renovasi Rumah Baitul Mal Aceh, Jusma Ery, S.Hi, MH mengatakan proses penyaluran bantuan renovasi rumah ini melalui rekening mustahik masing-masing. Namun Baitul Mal Aceh dan Baitul Mal Kabupaten/kota tetap melakukan pendampingan.

“Kita di Baitul Mal Aceh bekerjasama dengan Baitul Mal Kabupaten/kota tidak lepas tangan, tetapi kita dampingi mereka agar dana tersebut benar-benar digunakan untuk merehab rumahnya, mulai dari pengarahan hingga penyelesaian rehab,” tandasnya.

Ia menambahkan, proses penyaluran bantuan ini dilakukan untuk tiga wilayah yaitu wilayah Timur, Selatan dan Tengah. Tahap pertama dilaksanakan pada 2016 yaitu ke wilayah Timur. Selanjutnya untuk tahap kedua dan ketiga dilaksanakan pada 2017 yaitu ke wilayah Tengah dan Selatan.

Sedangkan untuk proses penentuan mustahik, kata Jusma Ery Baitul Mal Aceh meminta data ke Baitul Mal Kabupaten/kota. Setelah data diterima, tim dari Baitul Mal Aceh turun ke lapangan untuk memverifikasi kelayakan rumah yang akan dibantu.

“Jika di lapangan kita temukan tidak sesuai dengan kriteria fakir miskin yang telah ditentukan, maka Baitul Mal Aceh akan menolak dan diminta pengganti yang sesuai mekanisme penerima bantuan dana zakat tersebut.” tambah Ery.

Terakhir kata Ery, setiap bantuan yang diberikan itu tidak dipungut biaya sepeser pun dari mustahik. Jadi, ia meminta kepada mustahik untuk tidak percaya jika ada calo-calon yang meminta uang kepada penerima rehab rumah.[]


BMA Salurkan Bantuan untuk 3 Anak dari Keluarga Miskin yang Sakit Parah

Senin, 30 Oktober 2017

Baitul Mal Aceh menyalurkan bantuan untuk tiga anak yang sakit parah dan kini sedang dalam perawatan di rumah sakit.

Para penerima bantuan adalah Aris Munanzar (12) menderita kanker hati, Maryam Zahira (2,5) menderita keropos tulang, dan Bunga Ayu Sari (1) mengalami gizi buruk.

Bantuan diantar tim Baitul Mal ke rumah masing-masing penerima dengan besaran Rp 1 juta beberapa hari lalu.

Bantuan ini bersumber dari dana zakat asnaf miskin. Tujuannya untuk meringankan beban keluarga.

Kepala Baitul Mal Aceh, Zamzami Abdulrani SSos berharap bantuan yang diberikan dapat meringankan beban keluarga.

“Baitul Mal akan terus berupaya menjadi yang terdepan jika menerima kasus seperti ini,” katanya.

Zamzami menambahkan, pihaknya akan terus berkoordinasi dengan masyarakat, aparat desa serta pemerintah daerah setempat.

“Semoga Baitul Mal bisa menjadi lembaga zakat yang dipercaya oleh umat yang tercepat dalam menyalurkan bantuan tanpa adanya kendala-kendala yang menyebabkan terlambatnya penyaluran bantuan,” ujar dia.


BMA Menyalurkan Bantuan Rehab Rumah Fakir Miskin di Wilayah Tengah Propinsi Aceh

Jumat, 27 Oktober 2017

Takengon – Baitul Mal Aceh kembali melakukan penyaluran bantuan untuk rehab rumah fakir miskin di seputar kabupaten/kota di wilayah Tengah Propinsi Aceh. Kegiatan ini dilaksanakan di aula Kantor Baitul Mal Aceh Tengah, Kamis (26/10).

Untuk tahap ini Baitul Mal Aceh akan disalurkan ke 6 kabupaten/kota terdiri dari Kabupaten Bener Meriah, Kabupaten Aceh Tengah, Kabupaten Gayo Lues, Kabupaten Aceh Tenggara, Kabupaten Simeulue dan Kota Sabang dengan jumlah penerima seluruhnya 109 keluarga.

Dalam penyaluran ini diberikan pengarahan yang merupakan petunjuk dan penjelasan secara rinci agar dapat terselesaikan dengan baik dalam merenovasi rumah fakir miskin tersebut. Meknisme pelaksanaan dilakukan kerjasama antara Baitul Mal Aceh dengan Baitul Mal Kabupaten/Kota bersangkutan dan juga keaktifan penerima rumah. Karena pada pelaksanaan ini, penerima mendapatkan uang tunai yang telah ditransfer ke masing-masing penerima oleh Baitul Mal Aceh. Sedangkan Baitul Mal Kabupaten/Kota diharapkan untuk mengawasi penerima rumah agar uang tersebut benar-benar  digunakan untuk renovasi rumahnya.

Penyaluran ini diharapkan dapat melatih warga miskin untuk jujur dalam menggunakan dana zakat yang telah diberikan. Karena penerima rumah nanti membeli sendiri kebutuhan material bangunan untuk memperbaiki rumah tidak layak huni tersebut dan bukti pembelian akan diawasi kembali. Untuk masing-masing kepala keluarga, akan menerima bantuan yakni senilai Rp 20 juta.

Sementara itu Kepala Baitul Mal Aceh, Zamzami Abdulrani, S. Sos, berharap program yang digulirkan tersebut dapat bermanfaat dan menjadi pelajaran bagi warga miskin untuk berusaha jujur sehingga rumah yang diinginkan dapat terealisasi dengan baik.

”Kita juga sangat bersyukur semakin bertambahnya penghimpunan zakat di Aceh dan semoga terus meningkat tiap tahunnya. Ini berkat respon kepercayaan muzakki (pembayar zakat) untuk mendukung Baitul Mal di seluruh Propinsi Aceh dalam menuntaskan kemiskinan di sekitar kita,” ujarnya.


48 Fakir Miskin Terima Bantuan Peralatan Kerja

Selasa, 24 Oktober 2017

Banda Aceh – Sebanyak 48 masyarakat fakir miskin mendapatkan bantuan peralatan kerja dari Baitul Mal Aceh. Bantuan yang diberikan berupa uang untuk dibelanjakan barang sesuai kebutuhan usaha masing-masing mustahik.

Penyerahan bantuan tersebut dilakukan secara simbolis oleh Plt Kepala Baitul Mal Aceh Zamzami Abdulrani S. Sos yang didampingi Kepala Sekretariat, T Sulaiman SE, kepala bidang, kepala sub bidang di Aula Baitul Mal Aceh, Senin (23/10/2017).

“Tujuan pemberian bantuan ini untuk mengurangi beban ekonomi mustahik serta meningkatkan pendapatan mereka, sehingga suatu hari nanti mereka tidak lagi berstatus miskin, lebih bagus lagi sampai mereka mampu membayar zakat,” ujarnya.

Bantuan ini diberikan kepada mereka yang sudah memiliki skill namun tidak memiliki kemampuan untuk membeli peralatan kerja. Dengan adanya progam ini mendorong mereka lebih giat lagi dan memudahkan dalam bekerja.

“Kami berharap kepada mustahik agar memanfaatkan bantuan tersebut sebaik mungkin. Sekali lagi saya mengingatkan supaya bantuan juga tidak dialihkan untuk membeli hal-hal lain selain alat kerja,”tegasnya.

Seperti program lainnya, bantuan alat kerja ini nantinya juga akan dimonitoring dan evaluasi sejauh mana keefektifan dan memberi dampak baik terhadap mustahik. Amil Baitul Mal Aceh akan mengecek ulang dan memastikan barang-barang tersebut tidak dijual oleh mustahik.

Sebelum ditetapkan penerima bantuan ini, pihak Baitul Mal Aceh sudah terlebih dahulu memverifikasi kevalidan apakah yang bersangkutan benar-benar miskin dan punya skill yang dimiliki, tujuannya agar alat kerja yang diberikan tidak sia-sia.[]


Baitul Mal Aceh Kembalikan Zakat ke UPZ Rp2 Miliar

Kamis, 19 Oktober 2017

BANDA ACEH – Baitul Mal Aceh mengembalikan zakat Rp2 miliar kepada Unit Pengumpulan Zakat (UPZ) untuk 29 instansi yang rutin membayar zakat ke Baitul Mal. Zakat yang dikembalikan ini nantinya dibagikan kepada mustahik yang ada di lingkungan instansi bersangkutan.

Kebijakan ini diatur dalam Peraturan Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 38 tahun 2016 Perubahan kedua atas Pergub Nomor 60 tahun 2008 tentang Mekanisme Pengelolaan Zakat dan SK Dewan Pertimbangan Syariah (DPS) Baitul Mal Aceh bahwa setiap instansi yang menyetor zakat ke Baitul Mal akan dikembalikan sebanyak 15 persen dari dana yang disetor untuk dikelola sendiri dan dibagikan kepada musatahik di sekitarnya.

Plt Kepala Baitul Mal Aceh, Zamzami Abdulrani S Sos dalam arahannya kepada Ketua dan Bendahara UPZ-UPZ di Aula Baitul Mal Aceh, Rabu (18/10), menjelaskan dari 29 instansi tersebut, 5 di antaranya instansi vetikal. Dana yang dikembalikan kepada UPZ pada instansi yang bersangkutan untuk dibagikan kepada mustahik yang bekerja atau yang ada di sekeliling instansi tersebut.

“Ini sudah menjadi kebiasaan kita, pengembalian ini adalah sebuah kebijakan dan permintaan muzakki agar mustahik di lingkungan zakat itu dipungut dapat tersantuni juga,” kata Zamzami, Rabu (18/10).

zamzami menambahkan, dana pengembalian ini yang nantinya dikelola UPZ haruslah disalurkan tepat sasaran kepada mustahik. Artinya mustahik yang menerimanya harus sesuai dengan kiriteria yang ditetapkan oleh syar’i. Jika dana zakat ini tidak tepat sasaran maka pengelola tersebut yang akan bertanggung jawab.

Penyalurkan dana tersebut boleh dalam bentuk apapun, sebagai contoh dinas pendidikan misalnya, boleh dalam bentuk beasiswa atau bantuan pendidikan lainnya. Artinya tidak mesti diberikan dalam bentuk uang cash kepada mustahik.

Sementara itu, Kepala Bidang Pengumpulan Baitul Mal Aceh Jusma Eri MH meminta kepada UPZ nanti agar memberikan daftar penerima zakat yang akan disalurkan UPZ masing-masing untuk kebutuhan administrasi, sehingga Baitul Mal Aceh dapat mempertanggung jawab keuangannya.

“Kita tidak hanya pertanggungjawaban keuangan kepada negara juga kepada Allah Swt. Kita berharap selalu menjadi amil yang amanah dalam pengelolaan zakat ini.”tutupnya. []