Indeks Berita

Bank Aceh Bantu Perangkat SiMBA Mal

Rabu, 16 Agustus 2017

Banda Aceh – Baitul Mal Aceh mendapatkan bantuan perangkat Sistem Manajemen Informasi Baitul Mal Aceh (SIMBAMAL). Bantuan yang diberikan barupa 1unit server, 3 unit monitor dan 1 unit AC.

Penyerahan perangkat tersebut diserahkan langsung Kepala Cabang Bank Aceh Syariah Banda Aceh Imamil Fadhli yang diterima langsung Kepala Sekretariat Baitul Mal Aceh T Sulaiman SE di Aula kantor Baitul Mal Aceh, Rabu (16/08/2017).

Imamil Fadhli mengatakan perangkat tersebut sebagai bentuk dukungan pihak Bank Aceh untuk lembaga zakat. Apalagi selama ini Baitul Mal Aceh dengan Bank Aceh sudah bermitra dengan baik.

“Jangan dilihat dari harga, tapi ini bagian dari mendukung operasional Baitul Mal Aceh, sehingga dapat dimanfaatkan dengan baik,” ujar Imamil.

Ia berharap ke depan SIMBA bisa terkoneksi langsung dengan sistem di  Bank Aceh. Dan kepercayaan muzakki terhadap Baitul Mal Aceh semakin meningkat karena sudah transparansi melalui sistem tersebut.

“Lagipula selama ini sudah ada kerja sama penyetoran zakat melalui ATM,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Sekretariat Baitul Mal Aceh T Sulaiman SE mengucapkan terima kasih kepada pihak Bank Aceh yang selama ini sudah banyak mendukung Baitul Mal Aceh. Dengan bantuan yang diterimanya akan dimanfaatkan dengan baik.

“Kami juga berdoa agar Bank Aceh lebih maju lagi ke depan,” tutupnya. []


Baitul Mal Bahas Wakaf Produktif dan Fundraising Zakat

Kamis, 10 Agustus 2017

Banda Aceh –  Baitul Mal Aceh (BMA) menyelenggarakan dua kegiatan sekaligus yaitu Pelatihan Fundraising Zakat dan Pengelolaan Wakaf Produktif bagi Amil Baitul Mal Kabupaten/kota (BMK) Se-Aceh, Selasa (08/08/2017).

Kegiatan ini dilaksanakan mengingat di kabupaten/kota se-Aceh masih banyaknya harta wakaf yang belum dikelola dengan baik, sehingga rentan terbengkalai dan tidak difungsikan.

Dua kegiatan tersebut dilaksanakan pada hari yang sama yaitu mulai 08 hingga 10 Agustus 2017 yang dibuka Dewan Pertimbangan Syariah (DPS) Baitul Mal Aceh, Prof Dr Al Yasa’ Abubakar  MA di hotel Kuala Radja Banda Aceh.

Dalam sambutannya ia mengatakan harta wakaf itu baik tanah ataupun jenis wakaf lainnya lebih besar peranannya untuk perberdayaan ummat dibanding zakat dan infaq. Sebab, zakat dan infaq bisa saja habis digunakan, sedangkan wakaf tidak akan pernah habis.

“Namun yang menjadi persoalan hari ini baik di Aceh maunpun di dunia adalah pengelolaannya yang tidak produktif dan ketertiban administrasi wakaf yang masih kurang dan terkendala, sehingga rawan digugat,” kata Prof Alyasa.

Selain itu katanya, nadzir juga perlu dilatih cara pengelolaan wakaf agar mampu memproduktifkan harta wakaf yang ada di desa-desa atau dimanapun. Sehingga harta yang dimiliki umat saat ini terselematkan dan memberi dampak yang lebih besar dibanding pembiayaran tanpa terurus.

Aceh diberi kesempatan mengurusnya wakaf melalui peraturan atau qanun sama seperti kita diberi kewenangan dalam mengelola zakat,” tandas mantan Kadis Syariat Islam pertama tersebut.

Sementara itu kepala sekretariat Baitul Mal Aceh, T Sulaiman SE mengatakan untuk acara fundraising diselenggarakan mengingat selama ini masih banyak zakat mengendap di kantong-kantong muzakki, seperti sektor perdagangang, perusahaan, pertanian, tambak dan jenis-jenis lainnya.

“Dengan demikian pada 2018 akan lebih meningkatkan lagi target pengumpulan Zakat, Infaq, dan Sedekah (ZIS) di Baitul Mal se-Aceh,” ujarnya.

Kedua acara ini diikuti oleh 81 peserta yang terdiri atas 46 untuk pelatihan fundraising dan 35 utusan untuk workshop pengelolaan wakaf produktif. Untuk narasumber dihadirkan dari Nasional dan lokal.

Dari nasional Baitul Mal Aceh mengundang Dirut A-Azhar Peduli Umat Al-Azhar, Muhammad Rofiq Thoyyib Lubis untuk mengisi materi seputar model pengelolaan wakaf produktig dan managemennya  dan dari Dompet Dhuafa yaitu Bambang Suherman untuk materi Strategi Fundraising.


35 Anak Muallaf Miskin Terima Beasiswa Penuh

Senin, 07 Agustus 2017

Banda Aceh – Tahun ini, Baitul Mal Aceh (BMA) kembali memberikan beasiswa penuh kepada 35 anak muallaf yang direkrut dari daerah-daerah rawan aqidah. Beasiswa ini diberikan untuk meringankan beban keluarga mereka yang kurang mampu serta membentengi aqidah mereka.

Kepala Sekretariat Baitul Mal Aceh, T Sulaiman SE mengatakan dari 35 siswa muallaf penerima beasiswa penuh tersebut merupakan siswa tingkat SLTP dan SLTA. Para siswa yang sudah lulus verifikasi disekolahkan di pesantren Daruzzahidin Aceh Besar dan Islamic Solidarity School (ISS) Jantho.

“Tujuan dari bantuan ini merupakan bentuk kepedulian pemerintah terhadap para keluarga muallaf dalam meringankan beban ekonomi mereka dan juga bentuk pemberdayaan muallaf di sektor pendidikan yang berasal dari keluarga miskin,” ujar Sulaiman.

Untuk 2017, untuk program ini Baitul Mal Aceh menganggarkan dana zakat sebesar Rp400 juta. Dana sebesar ini untuk menanggung biaya masuk, SPP, uang bulanan, perlengkapan sekolah seperti seragam dan perlengkapan alat tulis.

“Sekarang ke-35 siswa muallaf tersebut sudah memasuki pesantren, kita berharap mereka serius mengikuti program ini dan sukses di masa yang akan datang,” ujarnya.

Ia menambahkan, program pemberdayaan muallaf melalui pendidikan ini merupakan program rutin Baitul Mal Aceh setiap tahunnya. Tujuannya tak lain yaitu memutuskan mata rantai kemiskinan di Aceh, sehingga ia tak mewarisi kemiskinan dari orang tuanya.

Pada tahun ini jumlahnya sedikit berkurang dibanding tahun 2016 sebanyak 46 dan 2015 sebanyak 30 orang. “Setiap tahun kita surati Baitul Mal Kabupaten/kota untuk mengirimkan data anak-akan muallaf di daerah rawan aqidah untuk kita verifikasi,” imbuhnya.

Adapun daerah-daerah yang tergolong rawan aqidah menurut Dewan Pertimbangan Syariah Baitul Mal Aceh yaitu Simeulue, Singkil, Aceh Tenggara, Subulussalam, dan Aceh Tamiang. Kelima daerah ini dianggap rawan aqidah karena dekat dengan perbatasan yang penduduknya banyak dari nonmuslim.

Berterimakasih kepada Muzakki

Salah seorang penerima beasiswa penuh anak muallaf tingkat SLTP dari Aceh Tamiang, Iki Saputra mengakui sangat bahagia mendapatkan kesempatan memperolah beasiswa tersebut, selain dapat meringankan beban orang tua, juga menambah semangatnya untuk melanjutkan pendidikan.

Ia berharap setelah dewasa nanti bisa menjadi ustadz atau guru pendidikan agama bagi muallaf lainnya, baik untuk keluarganya maupun untuk masyarakat secara umum. “Semoga nanti saya dapat membentengi dan memperkuat aqidah keluarga saya dan bagi muallaf lainnya.” Tutup Iki.

Ia juga tak lupa mendoakan para muzakki agar diberkahi rezekinya dan ditambahkan lebih banyak lagi. Ia berharap semakin banyak lagi muzakki yang menunaikan zakatnya ke Baitul Mal Aceh sehingga lebih banyak yang dapat dibantu. []


Tidak Bayar Zakat Pemicu Kekeringan

Rabu, 26 Juli 2017

Sejumlah kawasan di Aceh mulai merasakan dampak kemarau, cuaca panas, dan mengeringnya sejumlah sumber mata air.

Para pemerhati lingkungan berpendapat, keringya sumber mata air diakibatkan ekosistem seperti di Mata Ie, sebagai kawasan karst yang terdiri atas pegunungan, flora dan fauna, gua-gua, bebatuan, serta segala kekayaan alam di dalamnya kini dalam kondisi rusak parah.

Kerusakan masif itu diyakini sebagai penyebab utama keringnya mata air di gunung yang bersisian dengan objek kolam pemandian tersebut, di samping faktor musim kemarau yang berkepanjangan.

Lalu bagaimana kemarau dikaitkan dengan petunjuk dalam Alquran dn hadits Nabi?

Dosen Fakultas Dakwah Dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN)Ar-Rainiry  Abizal Yati, Lc, MA, PhD mengurai fenomena alam INI sebagai sebuah teguran dari Allah Swt.

Menurutnya, faktor-faktor alam yang diurai sebagai sebab akibat mengeringnya mata air Dan kebakaran lahan gambut di Aceh tentu erat kaitannyajuga dengan perilaku manusia.

Abizal Muhammad Yati yang juga penceramah dan dai aktif di Aceh ini mengatakan keengganan membayar zakat Dan perilaku maksiat manusia kepada Allah Swt akan menjadi pemicu tidak bersahabatnya alam kepada penduduknya.

Ia mengutip salah satu hadits yang sesuai dengan keadaan tersebut.

“Jika suatu kaum enggan mengeluarkan zakat dari harta-harta mereka, maka mereka akan dicegah dari mendapatkan hujan dari langit. Sekiranya bukan karena binatang-binatang ternak, niscaya mereka tidak diberi hujan.”

Ustadz Abizal mengatakan solusi kemarau panjang dan kekeringan adalah meminta ampun kepada Allah Swt.

“Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12)

Nah, cukup jelas bagaimana Alquran dan hadits memberikan ulasan yang patut direnungkan Dan dilaksanakan petunjuknya agar Kemarau segera berakhir dan mata air kembali mengalirkan air petanda kehidupan.

sumber: http://aceh.tribunnews.com/2017/07/25/tidak-bayar-zakat-pemicu-tak-turun-hujan


19 Putra-putri Aceh Terima Beasiswa Penuh Tahfidz Quran

Jumat, 21 Juli 2017

Banda Aceh – Sebanyak 19 orang putra-putri Aceh menerima beasiswa penuh dari Baitul Mal Aceh (BMA). Penyaluran beasiswa ini dimulai dengan penandatangan komitmen dengan wali santri di Aula Baitul Mal Aceh, Kamis (20/07/2017).

Kepala Sekretariat Baitul Mal Aceh, T Sulaiman SE mengatakan program ini merupakan program rutin setiap tahunnya yang dilaksanakan Baitul Mal Aceh. Program ini dibuat untuk meningkatkan kualitas pendidikan generasi penerus Aceh dari keluarga miskin melalui dana zakat.

Selain meningkatkan kualitas pendidikan, kata Sulaiman juga untuk meningkatkan skill atau kemampuan serta mempersiapkan generasi muda yang mampu memahami dan menghafal Quran sebagai cikal bakal imam masjid dan pemimpin masa depan.

“Untuk program ini kita ambil dari senif Ibnu Sabil, dan para penerima kita fokuskan untuk tingkat SMP dan SMU sederajat,” ujarnya.

Untuk program ini Baitul Mal Aceh menganggarkan dana zakat sebesar Rp 269 juta per tahun 2017. Adapun fasilitas dan biaya yang ditanggung yaitu biaya masuk pesantren, biaya SPP, uang saku, dan biaya perlengkapan sekolah.

Ke 19 santri yang mendapatkan beasiswa penuh tersebut akan diasramakan di dua pesantren yang berada di Aceh Besar yaitu, Madrasah Ulumul Quran (MUQ) Pagar Air dan Al-athiyah Saree. Kedua pesantren tersebut telah berkerjasama dengan Baitul Mal Aceh selama ini.

Mustahik penerima beasiswa diharapkan mampu menyelesaikan pendidikannya selama tiga tahun. Selain jadi hafidz juga menjadi duta zakat agar kesadaran para muzakki semakin tumbuh untuk menunaikan zakatnya di lembaga-lembaga resmi.

“Kepada orang tua juga kita dorong agar memberi semangat kepada anaknya agar sang buah hati dapat menjadi generasi qurani, dan yang paling penting mendoakan muzakki agar diberkahi rezekinya dan berkah hidupnya,” tandasnya.

Arjuna Darussalam, salah seorang santri penerima beasiswa ini merasa sangat bahagia karena dapat meringankan beban ekonomi orang tuanya untuk biaya pendidikan. Dia juga berkeinginan kuat untuk membanggakan kedua orangtuanya.

“Target saya bisa menghafal 30 juz Quran selama mendapat beasiswa ini, dan impian besar saya setelah lulus SMU nanti saya bisa melanjutkan studi ke Timur Tengah seperti Kairo dan Madinah,”tandasnya.

Tak lupa Arjuna juga berterimakasih kepada muzakki dan Baitul Mal Aceh yang telah memberikannya beasiswa tersebut. Ia berdoa agar para amil sehat selalu dan kepada muzakki diberi keberkahan rezeki.

“Saya juga berharap nanti menjadi muzakki dan dapat membantu meringankan beban orang lain,” katanya penuh harap.[]


Santri Binaan Baitul Mal Aceh Jadi TNI

Rabu, 12 Juli 2017

 

Banda Aceh – Santri penerima beasiswa tahfidz Alquran Baitul Mal Aceh, Muhammad Rahmani lulus menjadi anggota TNI AD. Pemuda asal Lamno, Aceh Jaya ini pernah belajar di Pesantren MUQ Pagar Air selama 6 tahun.

Ia mendapatkan beasiswa Baitul Mal Aceh ketika ia masih duduk smester pertama kuliah di UIN AR-Raniry dan ditempatkan di Dayah Darul Aman, Lampuuk Darussalam Aceh Besar dibawah binaan Ustadz Abi Mas’ud Irhamullah.

Muhammad Rahmani hanya melanjutkan sampai semester 4. Pada saat masih kuliah ia pernah jadi imam di masjid Alfitrah komplek asrama TNI AD Neusu Jaya, Banda Aceh.

Sekiar setahun kemudian, ia diajak masuk TNI AD, kebetulan waktu itu ia mengimami shalat terawih di masjid tersebut yang dihadiri langsung PANGDAM dan KASDAM IM. Usai shalat terawih langsung diajak untuk jadi anggota prajurit TNI AD.

“Kemudian ia ikut tes SECAPA Bandung karena ia tesnya jalur khusus CABA TALENTA punya kekeahlian dalam Agama,”kata Ustatdza Irhamullah.

Saat ini ia sedang menjalani pendidikan tahap I di RINDAM IM di Mata Ie, Aceh Besar.

Nanti tahap II melanjutkan pendidikan di PUSDIKAJEN Bandung. Direncanakan akan ditempatkan di DISBINTALAD Jakarta.

“Alhamdulillah Muhammad Rahmani masuk TNI AD tanpa di pungut biaya sedikit pun. Ia lulus murni,”tandasanya.[]

 


Ghazali Abbas Usul Zakat Pengurang Pajak Masuk RUU PPh

Kamis, 22 Juni 2017

Anggota DPD RI asal Aceh Drs Ghazali Abbas Adan yang juga anggota Majelis Syura Dewan Dakwah Aceh mengusulkan agar zakat sebagai pengurang pajak sebagaimana termaktub di dalam UUPA Pasal 192, dapat dimasukkan ke dalam Rancangan Undang Undang Pajak Penghasilan (RUU PPh). Menurutnya usul inisiatif DPD RI ini ia sampaikan saat berlangsungnya Uji Sahih RUU PPh tersebut di Universitas Medan (Unimed) beberapa waktu yang lalu.

“Alhamdulillah, usul inisiatif ini telah diterima oleh Tim Ahli RUU Pajak Penghasilan dan selanjutnya akan diserahkan kepada Prolegnas DPR RI untuk dibahas dan diputuskan,” kata Ghazali Abbas, Kamis (22/6).

Wakil Ketua Komite IV DPD RI yang membidangi keuangan ini sangat mengharapkan teman-teman anggota DPR RI dapil Aceh dapat mengawal dan memperjuangkannya untuk disahkan menjadi bagian dari UU PPh. Ia menambahkan bila hal itu terwujud, maka muzakki dan wajib pajak di masyarakat Aceh tidak lagi merasakan pembayaran ganda, yakni membayar zakat dan pajak sekaligus sebagaimana terjadi selama ini.

“lebih dari itu agar ada sinergisitas dengan wakil-wakil Aceh di Senayan dalam upaya perjuangan ini, sekali lagi saya harapkan Pemerintah Aceh di bawah komando Tgk Agam dan Pong Nova setelah di lantik nanti agar segera membentuk tim advokasi UUPA, sekaitan dengan pelaksanaan pasal 192 UUPA tersebut,” ungkap Ghazali Abbas.

Senator asal Pidie ini juga berharap usaha ini juga mendapat dukungan penuh dari anggota DPRA, Lembaga Baitul Mal Aceh dan Ormas Islam di Aceh serta Akademisi, Ulama dan Santri Aceh.  Menurut Ghazali, tidak ada alasan bagi Pemerintah Pusat untuk tidak menyetujui pengimplementasian pasal tersebut, karena UUPA merupakan lex specialis. Dan salah satu lex specialis Aceh adalah tentang Zakat.

“jika usaha bersama ini berhasil, akan dapat langsung dirasakan manfaatnya oleh Wajib Pajak (WP) dan Muzakki di Aceh. Dan Insha Allah Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor ini semakin bertambah, yang semuanya akan bermuara kepada peningkatan kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat Aceh,” tegas Ghazali Abbas.

Seperti diketahui Mantan Abang Jakarta ini telah beberapa kali menyampaikan persoalan tersebut di tingkat Kementerian atau Dirjen terkait. Bahkan sudah pula mengirim surat langsung kepada Presiden RI dalam rangka mendukung surat Gubernur Aceh tentang implementasi zakat sebagai pengurang pajak.

Yang terakhir ia juga sudah mengirimkan Petisi yang ditandatangi oleh berbagai stakeholder di Aceh kepada Presiden RI. Isi petisi tersebut salah satunya adalah meminta kepada Bapak Presiden untuk mengeluarkan kebijakan agar ketentuan Pasal 192 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 dapat dilaksanakan di Aceh.


Jelang Lebaran, Baitul Mal Aceh Bantu 1.978 Fakir Miskin

Kamis, 22 Juni 2017

 

Banda Aceh – Baitul Mal Aceh kembali salurkan bantuan santuan Ramadhan tahun 2017 kepada 1.978 fakir miskin yang berada di Aceh Besar. Penyerahan secara simbolis diserahkan Gubernur Aceh yang diwakili Asisten II Setda Aceh Drs. H.Saiba Ibrahim di masjid Baitul Makmur, Sibreh Aceh Besar, Kamis (22/06/2017).

Plh Kepala Baitul Mal Aceh, T Sulaiman, SE mengatakan setiap mustahik mendapatkan Rp 700.000 dengan jumlah total sebesat Rp. 1,3 Miliar. Bantuan ini diharapkan dipergunakan sebaik mungkin untuk kebutuhan Ramadhan atau pun hari raya.

“Memang bantuan ini tidak begitu besar, namun setidaknya sudah meringankan beban mereka, apalagi beberapa hari lagi akan menghadapi lebaran, tentu sangat banyak keperluan rumah tangga,”ujar T Sulaiman.

Ia meminta bantuan yang diterima mustahik tersebut agar tidak dipergunakan untuk membeli rokok atau hal-hal yang tak bermanfaat lainnya, sebab dana tersebut dari sumber zakat yang dititipkan muzakki dengan ikhlas ke Baitul Mal Aceh.

Sementara itu, Asisten II Setda Aceh Drs. H.Saiba Ibrahim mengatakan zakat merupakan bantuan sosial. Apalahi bantuan ini disalurkan pada bulan Ramadhan yang merupakan bulan sosial yaitu bulan saling berbagi.

“Dan momen ini sangat tepat untuk disalurkan bantuan konsumtif seperti ini mengingat masyarakat sangat membutuhkannya,” ujar Saiba di sela-sela penyerahan secara simbolis.

ia menginginkan pendapatan zakat di Baitul Mal Aceh maupun kabupaten/kota terus meninkat, sehingga semakin banyak zakat dapat dikumpulkan semakin banyak pula mustahik yang bisa dibantu.

“Kita ucapkan terimakasih kepada muzakki yang telah mempercayai pemerintah dalam mengelola zakat mereka, dengan adanya zakat, fakir miskin sudah terberdayakan,” imbuhnya.

Selain penyaluran zakat oleh Baitu Mal Aceh, di tempat yang sama juga disalurkan zakat Baitul Mal Aceh Besar. Pada penyerahan tersebut juga dihadiri Wakil Bupati Aceh Besar, Drs Syamsul Rizal, M Kes dan beberapa kepala dinas lainnya.

Dalam sambutannya ia menyampaikan selama ini dengan dana zakat sudah banyak membantu fakir miskin di kabupaten Aceh besar. Sejak tahun 2007, Baitul Mal Aceh besar telah membangun 650 unit rumah, menyantuni fakir uzur, santunan Ramadhan, bantuan dayah dan beberapa program lainnya.

“Sama seperti Baitul Mal Aceh, di Aceh Besar juga memberikan bantuan pinjaman modal usaha bagi mereka yang memiliki usaha kecil, supaya mendorong peningkatan pendapatan mereka.”tandas Syamsul Rizal.[]

 


BMA Serahkan Bantuan Masa Panik Kebakaran Lamreung

Rabu, 21 Juni 2017

Banda Aceh – Baitul Mal Aceh (BMA) menyerahkan bantuan masa panik kepada tiga keluarga yang terkena musibah kebakaran rumah di Lamreung, Kecamatan Krueng Barona Jaya, Rabu (21/06/2017). Ketiga kepala keluarga tersebut antara lain, Abdurrahman, Safrida dan Aisyah.

Bantuan dalam bentuk dana tunai diserahkan langsung Plh Kepala Baitul Mal Aceh, T Sulaiman SE yang didampingi Kepala Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan Zakat, Rizky Aulia dan Kepala Bidang Pengumpulan Zakat, Jusma Eric.

“Satu keluarga kita kasih Rp 2 juta, memang bantuan ini tidak terlalu besar, setidaknya sudah meringankan beban mereka yang terkena musibah, apalagi menjelang lebaran sangat butuh uluran tangan kita semua,” ujar T Sulaiman.

Selama ini Baitul Mal Aceh sangat intens membantu masyarakat yang terkena musibah kebakaran. Setiap tahunnya Baitul Mal Aceh menganggarkan dalam program insidentil.[]


Program Unggulan Baitul Mal Aceh yang Menyejahterakan

Jumat, 16 Juni 2017

Dalam pemberdayaan zakat, Baitul Mal Aceh terus melakukan terobosan demi terobosa dalam upaya pengentasan kemiskinan di Aceh. Salah satu terobosan yang dilakukan di bidang ekonomi adalah dengan program sektor produktif yaitu pemberian pinjaman modal usaha tanpa bunga (Qadlul Hasan) kepada ribuan fakir miskin di Aceh.

“Alhamdulillah program yang dilaksanakan ini berjalan dengan baik dalam upaya mendongkrak pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan taraf hidup penerima manfaat,” kata Kepala Sekretariat Baitul Mal Aceh T Sulaiman.

Ia menyebutkan hingga saat ini ada sebanyak 1.583 mustahik yang dibina oleh baitul Mal Aceh dengan penerima manfaat tersebut merupakan pelaku usaha kecil yang sudah terilit utang dengan rentenir.

Kemudian, bantuan alat kerja untuk sektor pertanian, perdagangan, nelayan, dan industri rumah tangga dalam upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi pada sektor yang ikut berkontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi.

Menurutnya dengan pemberian alat kerja tersebut akan mempermudah para mustahik dalam berkerja dan mengoptimalkan usaha serta kegiatannya sehingga mampu meningkatkan pendapatan dan memenuhi kebutuhan biaya hidup keluarga sehari-hari.

Untuk bidang pendidikan, Baitul Mal Aceh memprogramkan bantuan beasiswa dan bantuan pendidikan kepada siswa dan mahasiswa dari keluarga kurang mampu yang ada di provinsi ujung paling barat Indonesia tersebut.

Ada pun beberapa program beasiswa yang diberikan BMA tersebut antara lain beasiswa penuh tahfidh Al Qur’an untuk anak miskin, beasiswa berkelanjutan tahfidh Al Qur’an bagi mahasiswa, beasiswa penuh kewirausahaan untuk anak miskin, pelatihan life skill (pelatihan babysitter dan anak berkebutuhan khusus, ketrampilan komputer, desain grafis dan ketrampilan berkarakter bagi remaja dari keluarga miskin dan beasiswa penuh anak muallaf yang berada di daerah rawan aqidah.

Lembaga pengelola ZIS tersebut juga terus berinovasi dalam pengembangan programnya yakni sejak tahun 2016, Baitul Mal Aceh membuat program baru yang sebut Satu Keluarga Satu Sarjana (SKSS). Pada tahun 2016 Baitul Mal Aceh baru mampu memberikan kepada 96 mahasiswa, dengan rincian untuk UIN  dan Unsyiah masing-masing 48 mahasiswa.

Ia mengatakan beasiswa tersebut merupakan program baru Baitul Mal Aceh tahun 2016 sebagai upaya pengentasan kemiskinan di Aceh dan menurunkan angka putus sekolah.“Jika program ini sukses maka Baitul Mal akan terus meningkatkan jumlah penerimanya,” katanya.

Ia menyebutkan untuk program  tahun pertama Baitul Mal Aceh menganggarkan dana sebesar Rp1,2 milyar. Besaran nominal yang akan diperolah setiap mahasiswa berdasarkan kebutuhan dan standar kedua universitas negeri tersebut yang meliputi biaya SPP, uang jajan dan biaya untuk tempat tinggal.

Menurut dia dana yang diplotkan untuk program tersebut bersumber dari zakat dan calon penerima beasiswa tersebut berasal dari keluarga miskin.

“Calon penerima manfaat tersebut dilakukan verifikasi oleh tim di BMA dan sudah menjadi tanggungjawab kami untuk melakukan verifikasi dan kelayakan terhadap calon penerima sehingga program yang dgulirkan ini tepat sasaran,” katanya.

Ia mengatakan dengan adanya program beasiswa tersebut dapat bermanfaat dan para lulusan menjadi sarjana pelopor pemberdayaan masyarakat dan duta zakat, sehingga semakin banyak muzakki yang menyetor zakat ke Baitul Mal.

Kemudian untuk sektor sosial, salah satu program BMA adalah bantuan fakir uzur sebanyak 2.000 mustahik di mana setiap mustahik mendapat santunan Rp400 ribu setiap bulan seumur hidup.

“Bantuan ini diberikan mengingat banyak orang tua yang tidak produktif lagi atau ada yang sakit-sakitan sehingga teringankan beban mereka dengan adanya bantuan dari program yang digulirkan oleh BMA ini,” katanya.

Program lainnya dari program tersebut adalah program sunatan untuk anak dari keluarga miskin, bantuan untuk perempuan dan anak korban kekerasan dari keluarga miskin, bantuan untuk keluarga narapidana dan keluarga penderita gangguan jiwa.

Penerimaan Zis Baitul Mal 2016 Rp 237 Milyar

Penerimaan Zakat, Infaq dan Sedekah (ZIS) Baitul Mal Aceh dan Baitul Mal kabupaten/kota se-Aceh pada tahun 2016 sebesar Rp 237 milyar atau naik dari tahun 2015 Rp220 milyar.

“Alhamdulillah, ini patut kita syukuri peran Baitul Mal selama ini semakin nyata sehingga kepercayaan masyarakat pun semakin meningkat,” katanya Kepala Sekretariat Baitul Mal Aceh T Sulaiman.

Ia menjelaskan penerimaan zakat di lembaga tersebut dari tahun ke tahun meningkat menyusul tingginya kesadaran masyarakat dalam menunaikan rukun Islam keempat tersebut.

Menurut Sulaiman, peningkatan penerimaan zakat pada 2016 juga tidak terlepas dari peran sosialisasi amil Baitul Mal ke instansi-instansi vertikal, swasta, organisasi dan kepada perorangan dan keterbukaan Baitul Mal dalam pengelolaan serta penyaluran zakat menambah perhatian para muzakki.

Selain itu, layanan pembayaran zakat juga sudah bisa dilakukan melalui ATM Bank Aceh, sehingga masyarakat dengan mudah melakukan transaksi tanpa harus ke kantor Baitul Mal untuk menyetor zakatnya.[]